Belajar Tauhid
2.87K subscribers
458 photos
30 videos
290 files
1.42K links
Terima kasih telah bergabung dengan Chanel Belajar Tauhid dan semoga materi yang ada bermanfaat bagi kita semua.
.
Link e-Book & e-Paper Belajar Tauhid: http://bit.ly/ebook-gratis-belajartauhid
.
Salam 'alaikum
Download Telegram
MENOLAK KEBURUKAN DENGAN KEBAIKAN

Beliau ﷺ adalah pribadi yang mengamalkan firman Allah taála,

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ ۚ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ

“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah: "Ya Rabb-ku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.” (QS.Al-Mukminun:96-97)

Beliau juga mengamalkan firman Allah taála,

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS.Fushshilah:34)

Sifat ini merupakan etika yang luhur seperti yang disampaikan Ibnu as-Sa’di. Beliau menuturkan,

هذا من مكارم الأخلاق، التي أمر الله رسوله بها فقال: { ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ } أي: إذا أساء إليك أعداؤك، بالقول والفعل، فلا تقابلهم بالإساءة، مع أنه يجوز معاقبة المسيء بمثل إساءته، ولكن ادفع إساءتهم إليك بالإحسان منك إليهم، فإن ذلك فضل منك على المسيء، ومن مصالح ذلك، أنه تخف الإساءة عنك، في الحال، وفي المستقبل، وأنه أدعى لجلب المسيء إلى الحق، وأقرب إلى ندمه وأسفه، ورجوعه بالتوبة عما فعل، وليتصف العافي بصفة الإحسان، ويقهر بذلك عدوه الشيطان، وليستوجب الثواب من الرب، قال تعالى: { فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ }

“Ini termasuk budi pekerti luhur yang diperintahkan Allah agar dilaksanakan oleh rasul-Nya.

Allah berfirman, ”Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik”, artinya jika musuh-musuhmu telah berbuat buruk kepada dirimu dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, maka janganlah engkau menyikapi mereka dengan tindakan buruk.

Meskipun boleh untuk membalas orang yang telah berbuat buruk dengan tindakan serupa, akan tetapi, tolaklah sikap buruk mereka kepadamu dengan berbuat baik kepada mereka. Hal itu merupakan bentuk kemurahan hatimu kepada orang yang telah berbuat buruk itu.

Di antara manfaat sikap tersebut adalah ulah buruknya kepadamu akan berkurang, entah di saat ini atau pun di masa datang. Sifat tersebut lebih efektif untuk menarik orang yang telah berbuat buruk tersebut ke jalan yang benar, lebih menyadarkan dirinya untuk menyesali, bersedih, dan kembali kepada Allah dengan bertaubat dari perbuatannya.

Orang yang memberi maaf, berarti mempunyai sifat ihsan (kebaikan). Dengan itu, dia mampu mempecundangi setan serta berhak menerima pahala dari Allah. Allah berfirman, “Maka barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS.Asy-Syuara:40)”[1]

[1] Taisir al-Karim ar-Rahman hal. 588.

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr dalam Ahadits Ishlah al-Qulub

#tauhid
خضوع الفلب لله هو شعوره وإحساسه بأنه في قبضة وملكه، وتحت صلطانه وتصرفه

"Ketundukan hati kepada Allah adalah kesadaran dan sensitifitas hati bahwa ia berada dalam genggaman dan kuasa Allah; bahwa ia berada dalam pengaturan dan pengelolaan-Nya."

#tauhid
TURUNNYA WAHYU ADALAH NIKMAT ALLAH

Wahyu (yang diturunkan Allah) datang untuk memberikan perbaikan yang menyeluruh; memperbaiki keyakinan (akidah), akhlak, maksud, cita-cita, cara berpikir, metodologi pendalilan yang dimiliki dan dilakukan manusia.

Oleh karena itu, wahyu yang diturunkan merupakan nikmat, bahkan nikmat yang sangat besar.

Allah ta'ala berfirman,

 بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ۝٥

"Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan."" [QS.Yunus:58]

Dahulu generasi manusia akan menuju kepunahan karena berkubang dengan kesyirikan dan kemaksiatan, maka Allah pun menurunkan wahyu sehingga Dia menyelamatkan mereka dan mengubah rute mereka dari kesyirikan menuju kebaikan (tauhid).

Dalam hadits disebutkan,

وَإِنَّ اللَّهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ إِلَّا بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ

"Sesungguhnya Allah melihat kepada penduduk bumi, maka Dia pun murka kepada mereka, kepada bangsa arab maupun bangsa ajamnya (selain arab), kecuali sebagian dari Ahli Kitab (yang masih mengikuti sebagian wahyu Allah)." [HR. Muslim]

#tauhid
KELEMBUTAN ALLAH DALAM NAMA AT-TAWWAB

Allah ta'ala senantiasa memantau kita. Allah ta'ala pun memelihara kita. Dia juga meyodorkan sebab-sebab yang mampu menggiring kita dari kemaksiatan pada pertaubatan.

Ketika seorang menyadari bahwa Allah ta'ala mengoreksinya dan menyediakannya sebab yang mampu mendorongnya untuk bertaubat, maka ia harus bersyukur kepada Allah ta'ala.

Itulah mengapa nama at-Tawwab (التواب) disandingkan dengan nama ar-Rahim; nama at-Tawwab disandingkan dengan nama al-Ghafur; nama at-Tawwab disandingkan dengan nama al-Hakim.

Konsekuensi nama at-Tawwab adalah adanya pemantauan (al-mutaba'ah). Jika anda menyadari bahwa Allah ta'ala memantau, mengoreksi, mendidik, dan menyediakan sarana yang menggiringmu untuk bertaubat, maka bersyukurlah; karena Allah telah memasukkanmu dalam perhatian-Nya yang khusus.

Sungguh, balasan terberat atas kemaksiatan yang dilakukan seorang adalah ketika ia tidak lagi berada dalam perhatian Allah yang khusus.

Dr. Muhammad Ratib an-Nabulisiy

#tauhid
Kaidah Dalam Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah

الشرك في الربوبية مقدمة الشرك في الألوهية

Syirik pada Rububiyah Merupakan Langkah Awal Syirik Pada Uluhiyah

Makna redaksi kaidah di atas adalah seluruh sembahan selain Allah disembah oleh penyembahnya karena mereka meyakini bahwa sembahan tersebut memiliki sifat-sifat rububiyah (menciptakan, mengatur alam, memberi rezeki, dll). Dengan keyakinan itulah mereka lalu memalingkan kepada mereka hak uluhiyah yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah. Seandainya mereka tidak memiliki keyakinan tersebut, tentu mereka tidak akan menyembahnya.

Ketika mereka berkeyakinan bahwa sembahan itu mampu memberikan manfaat dan bahaya (dua hal ini merupakan karakteristik rububiyah), maka mereka pun menyembah dan bersujud kepadanya.

Ketika mereka berkeyakinan bahwa sembahan itu memiliki sebagian hak pengaturan dan pengelolaan alam semesta, mereka pun bersujud dan menyembelih (menyerahkan sesajen) kepadanya.

Ketika mereka berkeyakinan bahwa sembahan itu mengetahui hal yang gaib, mereka pun memalingkan hak uluhiyah kepadanya.

Hal ini juga terjadi pada pengkultus kuburan orang shalih atau orang yang dianggap shalih. Alasan pengkultusan tersebut dilatarbelakangi keyakinan bahwa penghuni kubur itu mampu memberikan manfaat, menolak bahaya, memberikan pertolongan, dan hal yang semisal.

Oleh karena itu, sudah menjadi kelaziman, bahwa setiap orang yang terjerumus dalam syirik rububiyah juga akan terjerumus dalam syirik uluhiyah. Tidak mungkin hati anda bersandar dan berpaling untuk menyembah sesuatu kecuali meyakini bahwa ia memiliki karakteristik rububiyah.

Sumber: Dr. Walid ibn Rasyid as-Su'aidan, Qawa'id fi Tauhid ar-Rububiyyah wa al-Uluhiyyah wa al-Asma wa ash-Shifat hal. 32-33.

#tauhid